Selasa, 12 Desember 2023

Anestesi Lokal

 

BAGIAN ILMU ANESTESI                                                                 REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN               NOVEMBER 2023

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR               

 

 

ANESTESI LOKAL

 

 

 

 

Oleh :

ALVIANA, S.Ked

105501110821

 

 

PEMBIMBING :

dr. Zulfikar Tahir, M.Kes, Sp.An-TI

 

 

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik

Bagian Anestesi

 

 

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2023



















BAB I
PENDAHULUAN

 

Sejarah anestesi atau pembiuasan telah dikenal diberbagai peradaban kuno manusia. Tindakan anestesi tertua yang tercatat adalah pertengahan abad ke-11, ketika Theodoric of Lucca, seorang uskup Italia yang kebetulan juga tabib, menghilangkan nyeri pembedahan menggunakan spons yang direndam mandrake dan opium. Dalam buku yang ditulis oleh Ibn al Quff, menuliskan istilah “tabib” (al- tabbaaee) untuk ahli lain yang melakukan tindakan pembiusan dengan cara menempelkan spons di wajah pasien agar obat bius terhirup.1 Banyak rejimen yang berbeda dicoba dengan keberhasilan yang berbeda-beda hingga 16 Oktober 1846, ketika anestesi bedah didemonstrasikan secara publik oleh William Morton di Rumah Sakit Umum Massachusetts.2

Anestesi adalah salah satu obat paling ampuh dan berbahaya yang digunakan dalam praktik kedokteran; obat tersebut menembus ke setiap sel dan organ tubuh dan dapat menyebabkan kematian seketika atau tertunda akibat efek racunnya.2 American Society of Anesthesiologists (ASA) menjelaskan anestesi umum sebagai “kehilangan kesadaran yang disebabkan oleh obat”.1 Anestesi berasal dari Bahasa Yunani, an yang artinya tidak dan aesthesis yang artinya perasaan. Secara umum anestesi berarti kehilangan perasaan atau sensasi. Anestesi terbagi dua, yaitu anestesi umum serta anestesi lokal. Bila mempengaruhi seluruh tubuh, digunakan istilah anestesi umum, jika hanya sebagian dari tubuh yang terpengaruh, maka istilah yang digunakan ialah anestesi lokal.3

Anestesi lokal banyak digunakan untuk mencegah atau mengobati nyeri akut; untuk mengobati peradangan, kanker, dan nyeri kronis; dan untuk tujuan diagnostik dan prognostik.2 Anestesi lokal bekerja untuk membius kulit, jaringan subkutan, dan saraf tepi untuk prosedur invasif atau bedah.4 Semua molekul anestesi lokal yang digunakan secara klinis mempunyai tiga bagian: ujung lipofilik (aromatik), ujung hidrofilik (amina), dan penghubung antar ujung.2

 

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

 

A.      Definisi Anestesi Lokal

Anestesi lokal didefinisikan sebagai hilangnya sensasi pada suatu area tubuh yang disebabkan oleh depresi eksitasi pada ujung saraf atau penghambatan proses konduksi pada saraf tepi. Ciri penting anestesi lokal adalah hilangnya sensasi tanpa menyebabkan hilangnya kesadaran.5

 

B.       Anatomi dan Fisiologi Neuron

Neuron merupakan elemen dasar yang berkaitan dengan proses penyaluran sinyal di dalam tubuh. Suatu neuron terdiri atas badan sel atau disebut dengan soma, dendrit dan serabut saraf yang disebut dengan akson. Dendrit merupakan suatu struktur terspesialisasi yang merupakan bagian dari badan sel. Akson dari suatu neuron biasanya akan berakhir dan membentuk suatu sinaps dengan badan sel ataupun dendrit dari neuron lainnya. Akson terhubung dengan sel neuron lain pada terminal pre-sinaps. Terdapat celah sinaps yang memisahkan terminap pre-sinaps dengan badan sel atau dendrit dari neuron lainnya dalam kaskade pesinyalan impuls saraf. Transmisi impuls antara neuron satu dengan neuron lainnya pada sinaps dimediasi oleh pelepasan suatu mediator kimiawi yaitu suatu neurotransmiter seperti glutamat atau ᵞ-aminobutyric acid (GABA) yang dilepaskan dari terminal pre-sinaps. Membran pada neuron post-sinaps memiliki reseptor tempat terikatnya neurotransmiter yang dilepas dari terminal pre-sinaps, dimana selanjutnya impuls saraf selanjutnya akan diteruskan oleh neuron tersebut.6

 

Gambar 2.1: Anatomi Neuron.6

Impuls saraf akan melewati membran sel saraf sebagai suatu potensial aksi. Proses ini difasilitasi oleh adanya reseptor yang terdapat pada membran sel saraf. Dengan demikian, jika aksoplasma (sitoplasma dari akson) dihilangkan maka hal ini tidak akan mengganggu proses konduksi impuls saraf. Serabut saraf mendapatkan sumber nutrisinya dari badan sel. Sehingga, jika serabut saraf ini dirusak maka serabut saraf di bagian perifer akan mengalami degenerasi yang dikenal dengan degenerasi Wallerian. Akson-akson pada saraf tepi atau saraf perifer memiliki kemampuan untuk regenerasi, begitu pula selubung mielinnya. Akan tetapi, kemampuan regenerasi ini tidak dimiliki oleh sel saraf di otak serta di medula spinalis.6

Gambar 2.2: Sinaps.6

·         Potensial aksi

Potensial aksi sesungguhnya tejadi di seluruh membran sel, hal ini didasarkan oleh adanya perbedaan konsentrasi ion natrium dan kalium antara intra-seluler dan ekstra-seluler. Perbedaan gradien konsentrasi ion tersebut dipertahankan oleh adanya suatu enzim pada membran sel yang disebut dengan enzim Na-K ATPase atau dalam istilah lainnya disebut pompa Na-K. Pompa Na-K ini bekerja dengan cara mentranfer tiga ion Natrium keluar sel serta 2 ion Kalium ke dalam sel. Gradien konsentrasi ini menyebabkan adanya potensial positif di luar membran sel dan potensial negatif di dalam sel. Perbedaan potensial membran ini disebut sebagai Resting Membrane Potential. Sitoplasma sel memiliki potensial listrik sebesar -60 hingga -80 mV diabandingkan dengan cairan ekstraseluler.6

Ketika suatu saluran ion tertentu terbuka maka akan terjadi perpindahan ion menuruni gradien konsentrasinya. Potensial aksi merupakan suatu perubahan yang cepat pada membran sel saraf akibat terbukanya saluran ion Natrium dan terjadi influks Natrium menuruni gradien konsentrasinya. Akibatnya meningkatnya jumlah Natrium di dalam sel, sedangkan jumlah Kalium tetap maka terjadi perubahan potensial listrik membran dimana potensial listrik intraseluler menjadi lebih positif dibandingkan ektraseluler. Setelah terjadi depolarisasi maka resting membrane potential akan dikembalikan lagi melalui suatu proses yang disebut dengan repolarisasi. Pada proses ini saluran Natrium yang tadi terbuka akan menutup dan diikuti dengan terbukanya saluran Kalium. Kalium akan berpindah keluar sel menuruni gradien konsentrasinya dan mengembalikan potensial membran dalam sel menjadi negatif.6

·         Penyebaran potensial aksi

Potensial aksi menyebar di sepanjang serabut saraf dan hal ini merupakan

dasar mekanisme transmisi sinyal pada sistem saraf. Potensial aksi menyebar disepanjang perjalanan serabut saraf melalui mekanisme depolarisasi sistem saraf. Depolarisasi di sepanjang serabut saraf inilah yang kita kenal dengan istilah impuls saraf. Biasanya keseluruhan potensial aksi akan berlangsung selama kurang dari 1 millisecond.6

Selama terjadinya potensial aksi, membran sel saraf berada dalam keadaan sulit untuk mengalami stimulasi lanjutan. Kondisi ini disebut sebagai suatu kondisi absolute refractory period. Kondisi ini terjadi karena keberadaan saluran ion Natrium yang berada dalam kondisi inaktif dalam jumlah yang besar selama periode tersebut. Namun pada akhir periode potensial aksi, stimulus yang lebih kuat dari normal dapat menimbulkan munculnya potensial aksi sekunder. Kondisi ini dinamakan sebagai relative refractory period. Kondisi ini menandakan bahwa perlunya untuk mengaktivasi beberapa saluran ion Natrium untuk memicu munculnya potensial aksi.6

 

C.    Klasifikasi  Anestesi Lokal

Anestesi lokal dapat diklasifikasikan sebagai amino ester atau amino amida menurut ikatan/struktur kimianya. Perbedaan yang signifikan antara dua kelompok utama anestesi lokal, ester dan amida, adalah cara tubuh secara biologis mengubah obat aktif menjadi obat yang tidak aktif secara farmakologis. Anestesi lokal terkait ester (misalnya prokain) mudah dihidrolisis dalam larutan air. Anestesi lokal yang terikat dengan amino (misalnya lidokain) relatif resisten terhadap hidrolisis. Persentase obat terikat amide lebih besar dibandingkan obat terikat ester yang diekskresikan dalam bentuk tidak berubah melalui urin.5

Anestesi lokal ester dihidrolisis dalam plasma oleh enzim pseudokolinesterase. Laju terjadinya hidrolisis berbagai ester sangat bervariasi. Laju hidrolisis berdampak pada potensi toksisitas anestesi lokal. Kloroprokain, yang paling cepat terhidrolisis, adalah yang paling tidak beracun, sedangkan tetrakain, yang terhidrolisis 16 kali lebih lambat dibandingkan kloroprokain, mempunyai potensi toksisitas paling besar. Reaksi alergi yang terjadi sebagai respons terhadap anestesi lokal ester biasanya tidak terkait dengan senyawa induk (misalnya prokain) melainkan PABA (para-aminobenzoic acid), yang merupakan produk metabolisme utama dari banyak anestesi lokal ester.5

Biotransformasi anestesi lokal Amida lebih kompleks dibandingkan dengan ester. Tempat utama biotransformasi anestesi lokal amide adalah hati. Terdapat dua jenis anestesi lokal amino amide berdasarkan struktur ikatan amino amide. Salah satu jenisnya adalah aminoacyl amides, seperti lidokain dan bupivakain, dan jenis lainnya adalah amino alkyl amides, seperti dibucaine. Hampir seluruh proses metabolisme terjadi di hati untuk lidokain, mepivakain, etidokain, dan bupivakain. Prilokain mengalami metabolisme primer di hati, dan beberapa juga mungkin terjadi di paru-paru. Articaine, molekul hibrida yang mengandung komponen ester dan amide, mengalami metabolisme di darah dan hati.2,5

Perbedaan ester dan amida:7

-   Senyawa ester:

·         Relatif tidak stabil dalam bentuk larutan.

·         Dimetabolisme dalam plasma oleh enzym psudocholinesterase

·         Masa kerja pendek

·         Relatif tidak toksik

·         Dapat bersifat alergen, karena strukturnya mirip PABA (para-aminobenzoic acid)

-   Senyawa amida:

·         Lebih stabil dalam bentuk larutan

·         Dimetabolisme dalam hati

·         Masa kerja lebih panjang

·         Tidak bersifat alergen

Perbandingan golongan ester dan amida

Klasifikasi

Potensi

Mula Kerja

Lama Kerja

(infiltrasi, menit)

Toksisitas

Ester

 

 

 

 

Prokain

1 (rendah)

Cepat (fast)

45-60

Rendah

Kloroprokain

3-4 (tinggi)

Sangat cepat (very rapid)

30-45

Sangat rendah

Tetrakain

8-16 (tinggi)

Lambat (slow)

60-180

Sedang

Amida

 

 

 

 

Lidokain

1-2 (sedang)

Cepat (rapid)

60-120

Sedang

Etidokain

4-8 (tinggi)

Lambat (slow)

240-480

Sedang

Prilokain

1-8 (rendah)

Lambat

60-120

Sedang

Mepivakain

1-5 (sedang)

Sedang (moderate)

90-180

Tinggi

Bupivakain

4-8 (tinggi)

Lambat

240-480

Rendah

Ropivakain

4 (tinggi)

Lambat

240-480

Rendah

Levobupivakain

4 (tinggi)

Lambat

240-480

 

Tabel 2.1: Perbandingan golongan ester dan amida.8

 

D.    Mekanisme Kerja Anestesi Lokal (Farmakodinamik)

Obat anestesi lokal mencegah proses terjadinya depolarisasi membran saraf pada tempat suntikan obat, selanjutnya membran akson tidak akan dapat bereaksi dengan asetilkolin sehingga membran akan tetap dalam keadaan semipermeabel dan tidak terjadi perubahan potensial. Keadaan ini menyebabkan aliran impuls yang melewati saraf tersebut terhenti, sehingga segala macam rangsang atau sensasi tidak sampai ke susunan saraf pusat. Keadaan ini menyebabkan timbulnya parestesia sampai anestesi, paresis sampai paralisis dan vasodilatasi pembuluh darah pada daerah yang terblok.7

Hambatan depolarisasi dilakukan melalui mekanisme: penggantian ion kalsium pada membran dengan bagian/struktur dari obat anestesia lokal, mengurangi permeabilitas membran sel terhadap natrium, menurunkan laju depolarisasi aksi potensial membran, menurunkan derajat depolarisasi sampai ambang potensial, menggagalkan perkembangan penyebaran aksi potensial.7

Ion natrium merupakan ion ekstraseluler utama sedangkan ion kalium merupakan ion intraseluler utama. Dinding sel lebih permeabel terhadap ion kalium sehingga kalium lebih bebas melewati dinding sel, sedangkan ion natrium bersifat semi-permeabel dan diatur oleh kanal ion natrium.7

Pada waktu istirahat terdapat perbedaan potensial pada membran sel saraf. Perbedaan tersebut relatif lebih negatif di dalam sel dibandingkan dengan di luar sel. Saat terjadi konduksi impuls, kanal ion natrium terbuka dan ion natrium bergerak ke dalam sel sehingga terjadi depolarisasi sel. Obat anestesi lokal akan memblok konduksi saraf dengan cara menghambat masuknya ion natrium.7

Setelah obat anestesi diinjeksikan terjadi peningkatan pH larutan oleh proses penyangga jaringan yang akan mengubahnya menjadi bentuk non ion sehingga lebih mudah larut dalam lemak. Dalam bentuk ini obat anestesi lokal lebih mudah menembus membran lipid untuk masuk ke dalam sel. Di dalam sel sebagian obat akan mengalami ionisasi kembali. Obat akan masuk ke dalam kanal natrium yang terbuka pada bagian dalam dan akan menghambat aliran masuk natrium sehingga terjadi blok pada konduksi impuls.7

Beberapa faktor yang mempengaruhi kepekaan serabut saraf terhadap obat anestesi lokal antara lain ukuran, mielinisasi, dan panjang serabut saraf yang terpapar obat anestesi lokal. Secara umum sensasi terhadap temperatur akan menghilang terlebih dahulu diikuti dengan sensasi nyeri dan sentuhan ringan. Hal ini diduga disebabkan oleh serabut yang kecil dan tidak bermielin (serabut C) yang mengkonduksi sensasi terhadap temperatur lebih peka terhadap obat anestesi lokal dibandingkan dengan serabut saraf yang besar dan bermielin (serabut A) yang mengkonduksi sentuhan. Perbedaan kecepatan blok pada serabut saraf kecil dan besar akan dipengaruhi pula oleh jenis obat anestesi lokal.7

Perbedaan blok dipengaruhi pula oleh panjang serabut saraf yang terpapar obat anestesi lokal, dimana serabut saraf kecil membutuhkan jumlah obat anestesi lokal yang lebih sedikit. Untuk tercapainya blok konduksi impuls saraf dibutuhkan panjang serabut saraf minimal yang terpapar obat anestesi lokal dengan konsentrasi yang cukup. Serabut saraf yang besar akan memiliki retensi yang lebih tinggi terhadap blok obat anestesi lokal.7

Konsentrasi minimal yang dibutuhkan obat anestesi lokal untuk menghasilkan blok konduksi impuls saraf disebut pula dengan Cm. Cm serupa dengan Minimum Alveolar Concentration (MAC) untuk obat anestesi inhalasi. Diameter dari serabut saraf akan mempengaruhi Cm, dimana serabut saraf yang besar akan membutuhkan konsentrasi yang besar dari obat anestesi lokal untuk terjadinya blok. Peningkatan dari pH jaringan atau frekuensi stimulasi saraf yang besar akan menurunkan Cm. Setiap obat anestesi lokal memiliki keunikan tersendiri untuk Cm. Hal tersebut disebabkan pada blok sensorik tidak selalu diikuti dengan paralisis otot skeletal. Pada anestesi subarakhnoid membutuhkan obat anestesi lokal yang lebih sedikit dibandingkan dengan epidural. Hal tersebut menggambarkan akses obat lokal akan lebih mudah mencapai saraf yang tidak terlindungi pada rongga subarakhnoid.7

Permulaan kerja anestesi lokal tergantung pada banyak faktor, termasuk kelarutan lipid dan konsentrasi relatif dari bentuk basa bebas (B) yang tidak terionisasi dan lebih larut dalam lemak serta bentuk terionisasi dalam air (BH+), yang dinyatakan dengan pKa. PKa adalah pH dimana terdapat fraksi yang sama antara obat yang terionisasi dan yang tidak terionisasi. Agen yang kurang poten dan kurang larut dalam lemak (misalnya lidokain atau mepivakain) umumnya memiliki onset yang lebih cepat dibandingkan agen yang lebih poten dan lebih larut dalam lemak (misalnya ropivacaine atau bupivakain). Anestesi lokal dengan pKa paling dekat dengan pH fisiologis akan mempunyai (pada pH fisiologis) fraksi basa tak terionisasi yang lebih besar yang lebih mudah menembus membran sel saraf, umumnya memfasilitasi permulaan kerja yang lebih cepat. Bentuk basa bebas yang larut dalam lemak yang lebih mudah berdifusi melintasi selubung saraf (epineurium) dan melalui membran saraf. Anehnya, ketika molekul anestesi lokal mendapatkan akses ke sisi sitoplasma saluran Na, maka kation bermuatan (bukan basa tak terionisasi)lah yang lebih kuat mengikat saluran Na. Misalnya, pKa lidokain melebihi pH fisiologis (PH jaringan normal adalah 7,4).9

Mula kerja bergantung beberapa faktor, yaitu: (1) pKa mendekati pH fisiologis sehingga konsentrasi bagian tak terionisasi meningkat dan dapat menembus membran sel saraf sehingga menghasilkan mula kerja cepat. (2) Alkalinisasi anestetika lokal membuat mula kerja cepat. (3) Konsentrasi obat anestetika lokal. Lama kerja dari anestesi lokal dipengaruhi oleh ikatan dengan protein plasma, kerena reseptor anestesi lokal adalah protein, dipengaruhi oleh kecepatan absorpsi dan dipengaruhi oleh ramainya pembuluh darah perifer di daerah pemberian.8

Bagan 2.1: Mekanisme Kerja Anestesi Lokal.7

 

Gambar 2.3: Klasifikasi Serabut Saraf.9

 

    

Gambar 2.4: Struktur kimia, fisikokimia, dan sifat farmakologis anestesi lokal.5

 

 

E.       Farmakokinetik Anestesi Lokal

        Absorpsi

Kemampuan obat anestesi lokal untuk diabsorbsi tergantung dari beberapa faktor, dimana hal-hal terpenting adalah lokasi injeksi, dosis obat anestesi lokal, sifat fisikokimia obat tersebut dan penggunaan epinefrin sebagai obat tambahan. Ketika disuntikkan ke jaringan lunak, anestesi lokal memberikan tindakan farmakologis pada pembuluh darah di area tersebut. Semua anestesi lokal mempunyai tingkat vasoaktivitas, sebagian besar menyebabkan pelebaran pembuluh darah tempat obat tersebut disimpan, meskipun tingkat vasodilatasi dapat bervariasi, dan beberapa dapat menyebabkan vasokonstriksi. Prokain, yang merupakan vasodilator paling ampuh di antara anestesi lokal.5,7

Kokain adalah satu-satunya anestesi lokal yang secara konsisten menghasilkan vasokonstriksi. Tindakan awal kokain adalah vasodilatasi yang diikuti dengan vasokonstriksi yang intens dan berkepanjangan. Ini diproduksi dengan menghambat penyerapan katekolamin (terutama norepinefrin) ke tempat pengikatan jaringan. Hal ini menyebabkan kelebihan norepinefrin bebas, menyebabkan vasokonstriksi yang berkepanjangan dan intens.5

Efek klinis yang signifikan dari vasodilatasi adalah peningkatan dalam kecepatan penyerapan anestesi lokal ke dalam darah, sehingga menurunkan durasi dan kualitas (misalnya kedalaman) pengendalian nyeri, sekaligus meningkatkan konsentrasi anestesi dalam darah (atau plasma) dan potensi overdosis (reaksi toksik). Kecepatan penyerapan obat anestesi lokal ke dalam aliran darah dan mencapai kadar puncaknya dalam darah berbeda-beda tergantung rute pemberiannya.5

·         Topikal

Anestesi lokal diserap dengan kecepatan yang berbeda-beda setelah diaplikasikan pada membran mukosa: Pada mukosa trakea, penyerapan hampir sama cepatnya dengan pemberian intravena (IV) (tentu saja, pemberian obat intratrakeal seperti epinefrin, lidokain, atropin, nalokson, dan flumazenil digunakan dalam situasi darurat tertentu); di mukosa faring, penyerapan lebih lambat; dan pada mukosa esofagus atau kandung kemih, penyerapannya bahkan lebih lambat dibandingkan yang terjadi melalui faring. Jika tidak ada lapisan kulit utuh, anestesi lokal yang dioleskan dapat menghasilkan efek anestesi. Semprotan lidokain dan tetrakain biasanya digunakan untuk anestesi endotrakeal sebelum intubasi atau untuk analgesia mukosa untuk bronkoskopi atau esofagoskopi. Campuran eutektik dari anestesi lokal lidokain dan prilokain (EMLA/  Eutectic Mixtures of Local Anaesthetics) telah dikembangkan yang mampu memberikan anestesi permukaan pada kulit utuh.5

·         Injeksi

Kecepatan penyerapan (absorpsi) anestesi lokal setelah pemberian parenteral (subkutan, intramuskular, atau IV) berhubungan dengan vaskularisasi tempat suntikan dan vasoaktivitas obat. Pemberian anestesi lokal secara IV memberikan peningkatan kadar darah yang paling cepat dan digunakan secara klinis dalam penatalaksanaan utama disritmia ventrikel. Pemberian IV yang cepat dapat menyebabkan tingkat anestesi lokal yang sangat tinggi dalam darah, yang dapat menyebabkan reaksi toksik yang serius. Manfaat yang diperoleh dari pemberian obat IV harus selalu dipertimbangkan secara hati-hati terhadap segala risiko yang terkait dengan pemberian IV.5

Absorpsi sistemik dipengaruhi oleh:

1.      Ternpat suntikan

Kecepatan absorpsi sistemik sebanding dengan ramainya  vaskularisasi tempat suntikan : absorbsi intravena > trakeal >  interkostal > kaudal > Para-servikal > epidural > pleksus brakial  > skiatik > subkutan

2.      Penambahan vasokonstriktor

Adrenalin 5 pg/ml atau 1:200.000 membuat vasokontriksi  pembuluh darah pada tempat suntikan sehingga dapat  memperlambat absorpsi sampai 50%.

3.      Karakteristik obat anestetik lokal

Obat anestetika lokal terikat kuat pada jaringan sehingga dapat  diabsorpsi secara lambat.

        Distribusi

Organ dengan perfusi tinggi, seperti otak, kepala, hati, ginjal, paru-paru, dan limpa, memiliki tingkat anestesi dalam darah yang lebih tinggi dibandingkan organ dengan perfusi kurang tinggi. Semua anestesi lokal mudah melewati sawar darah-otak. Juga mudah melewati plasenta dan memasuki sistem peredaran darah janin yang sedang berkembang.5

Distribusi tergantung pada penyerapan organ, yang ditentukan sebagai berikut:

1.    Perfusi jaringan

Organ dengan perfusi tinggi (otak, paru-paru, hati, ginjal, dan jantung) bertanggung jawab untuk menghilangkan anestesi lokal dari darah dengan cepat, yang kemudian diikuti dengan redistribusi yang lebih lambat ke jaringan yang lebih luas. Secara khusus, paru-paru mengeluarkan sejumlah besar anestesi lokal selama “lintasan pertama” akibatnya, pasien dengan right-to-left cardiac shunts lebih rentan terhadap efek samping toksik dari lidokain yang disuntikkan sebagai agen antiaritmia.9

2.      Koefisien partisi jaringan/darah

Peningkatan kelarutan dalam lipid berhubungan dengan pengikatan protein plasma yang lebih besar dan penyerapan anestesi lokal oleh jaringan dari kompartemen air yang lebih besar. Ikatan kuat dengan piotein plasma à obat lebih lama di darah. Kelarutan dalam lemak tinggi à meningkatkan ambilan jaringan.8,9

3.      Massa jaringan

Otot merupakan tempat reservoir bagi anestesi lokal.8

        Ekskresi atau Eliminasi

Metabolisme obat anestesi lokal golongan ester terutama dilakukan olch enzim kolinesterase yang terdapat di dalam plasma, sedangkan metabolisme golongan amida sebagian besar dimetabolisme di hati. Oleh karena itu, aliran darah hati, eksresi hati, dan protein dinding sel menentukan eliminasi obat anestesi lokal golongan amida, Golongan ester cepat dihidrolisis dan metabolitnya akan dieksresi lewat ginjal karena larut dalam air. Golongan amida metabolismenya lebih lambat dari hidrolisa seter, matabolit diesksresi lewat urin dan sebagian kecil dieksresi dalam bentuk utuh. Semakin tinggi kecepatan eliminasi obat anestesi lokal, maka akan semakin lebar batas keamanannya.7,8

 

F.       Efek Samping Anestesi Lokal

·         Sistem saraf pusat

Sistem saraf pusat rentan terhadap toksisitas sistemik anestesi lokal. Terdapat tanda-tanda dan gejala-gejala peningkatan konsentrasi anestesi lokal dalam darah pada pasien yang sadar. Gejala dan tanda tersebut termasuk mati rasa di sekitar mulut, paresthesia lidah, pusing, tinitus, penglihatan kabur, gelisah dan gugup. Kedutan otot mendahului kejang tonik-klonik. Konsentrasi darah yang lebih tinggi lagi dapat menyebabkan depresi sistem saraf pusat (misalnya koma dan henti napas). Reaksi rangsang dianggap sebagai hasil dari blokade selektif jalur penghambatan. Anestesi lokal yang kuat dan sangat larut dalam lemak menghasilkan kejang pada konsentrasi darah yang lebih rendah dibandingkan obat yang kurang kuat.8

·         Respirasi

Apnea dapat terjadi akibat kelumpuhan saraf frenikus dan interkostal (misalnya akibat dari high spinals atau depresi pusat pernapasan meduler akibat paparan langsung terhadap obat anestesi lokal (misalnya setelah blok retrobulbar). Namun, apnea setelah pemberian anestesi tulang belakang atau epidural “tinggi” hampir selalu disebabkan oleh hipotensi dan iskemia otak daripada blok frenikus. Anestesi lokal menyebabkan relaksasi otot polos bronkus.9

·         Kardiovaskular

Pada konsentrasi rendah, semua anestesi lokal menghambat oksida nitrat, menyebabkan vasokonstriksi. Semua anestesi lokal kecuali kokain menghasilkan relaksasi otot polos dan vasodilatasi arteri pada konsentrasi yang lebih tinggi, termasuk vasodilatasi arteriolar. Pada peningkatan konsentrasi darah, kombinasi aritmia, blok jantung, depresi kontraktilitas ventrikel, dan hipotensi dapat berujung pada serangan jantung.

Risiko toksisitas kardiovaskular lebih besar pada anestesi lokal lipofilik seperti bupivakain. Risiko toksisitas jantung lebih besar pada pasien dengan riwayat masalah konduksi jantung yang mendasari atau setelah infark miokard. Dosis toksik dari agen anestesi lokal dapat menyebabkan depresi-miokard (tetrakain, etidokain, bupivakain), disritmia jantung (bupivakain), dan kardiotoksisitas pada kehamilan. Lidokain juga mengubah tonus pembuluh darah, dengan dosis rendah memiliki efek vasokonstriksi dan dosis yang lebih tinggi menyebabkan relaksasi dari otot polos pembuluh darah, sehingga menyebabkan hipotensi.

Tanda dan gejala keracunan kardiovaskular meliputi nyeri dada, sesak napas, palpitasi, diaforesis, hipotensi, dan pingsan. Efek pada konduksi jantung termasuk pelebaran interval PR, pelebaran durasi QRS, sinus takikardia, sinus arrest, dan disosiasi atrioventrikular sebagian atau lengkap. Toksisitas jantung dipotensiasi olch asidosis, hiperkapnia, dan hipoksia, yang memperburuk penekanan jantung dan meningkatkan kemungkinan aritmia.7

·         Alergi

Ester amino adalah turunan dari asam para-aminobenzoic (PABA) yang telah dikaitkan dengan reaksi alergi akut. Penelitian sebelumnya menunjukkan 30% dari reaksi alergi terhadap prokain, tetrakain, dan chloroprocaine. Amida amino tidak terkait dengan PABA dan tidak menghasilkan reaksi alergi dengan frekuensi yang sama. Namun, persiapan anestesi amida kadang-kadang berisi methylparaben, yang secara struktural mirip dengan PABA dan dengan demikian dapat menyebabkan reaksi alergi.

Manifestasi alergi anestesi lokal termasuk ruam dan urtikaria. Anafilaksis akibat anestesi lokal sangat jarang tapi harus dipertimbangkan jika pasien mulai mengi atau menderita gangguan pernapasan setelah menerima obat bius. Pasien yang melaporkan alergi terhadap lidokain mungkin alergi terhadap pengawet methylparaben.7

·         Muskuloskleletal

Ketika disuntikkan langsung ke otot rangka baik secara sengaja atau tidak sengaja, anestesi lokal bersifat miotoksik ringan. Regenerasi biasanya terjadi dalam waktu 4 minggu setelah penyuntikan. Menggabungkan anestesi lokal dengan steroid atau epinefrin memperburuk mionekrosis. Ketika disuntikkan ke dalam sendi dalam jangka waktu lama, anestesi lokal dapat menyebabkan kondromalasia yang parah.9

 

G.    Al Islam Kemuhammadiyahan

Penggunaan  anestesi  dalam  prosedur  medis  membantu  dalam mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan yang mungkin dialami oleh pasien. Dengan demikian, ini sejalan dengan prinsip menjaga kesehatan dan kesejahteraan individu, yang merupakan nilai penting dalam Islam. Islam sangat mementingkan perlindungan nyawa manusia.Selagi material yang digunakan dalam anestesi tersebut halal bagi tubuh, serta tidak tercampur dengan material yang haram. Anestesi dapat membantu dalam menjaga nyawa  pasien  dengan  memungkinkan  dokter  untuk  melakukan  prosedur  medis  yang mungkin berisiko tinggi tanpa menyebabkan rasa sakit yang berlebihan atau stres pada pasien. Hukum Islam memberikan ruang bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, selama itu tidak melanggar prinsip-prinsip dasar agama.10

Pada awalnya anestesi diharamkan karena dapat menghilangkan  akal  dan  memilikikandungan  narkotika  didalamnya,  sehingga anestesi  dapat  disamakan  dengan  khamar. Dalam  konteks  fiqh  kedokteran,  dinyatakan bahwa anestesi dapat digunakan dalam tiga kondisi, salah satunya adalah dalam situasi darurat,  di  mana  operasi  tidak  dapat  dilakukan  tanpa  anestesi.  Dengan  demikian, penggunaan  anestesi  diperbolehkan  dalam  kondisi  ini,hal  tersebutsesuaidan  sejalandengan  prinsipal-Ḍarūrāt Tubīḥu al-Maḥẓūrātyang  menjelaskan  terhadap  pembolehan untuk mengambil atau menggunakan sesuatu yang haram saat berada pada kondisi yang darurat.10

Penggunaan  anestesi  dalam  hukum  pandang  islam diperbolehkan,  karena  islam  memberikan  keringanan  bagi  orang  orang  yang  memang membutuhkannya. Hal  tersebut  juga  tercantum  dan  terdapat  pada  kaidah  al-Ḍarūrāt Tubīḥu  al-Maḥẓūrāt  yang  menjelaskan  terhadap  pembolehan  untuk  mengambil  atau menggunakan  sesuatu yang  haram  saat  berada  pada  kondisi  yang  darurat.  Hal  tersebut juga tidak terlepas dari syarat syaratnya seperti hanya digunakan pada kondisi yang benar benar  darurat,  dan  penggunaanya  diharuskan  berasal  dari  orang  yang  benar  benar  ahli dalam bidangnya.10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III
KESIMPULAN

 

Anestesi terbagi dua, yaitu anestesi umum serta anestesi lokal. Bila mempengaruhi seluruh tubuh, digunakan istilah anestesi umum, jika hanya sebagian dari tubuh yang terpengaruh, maka istilah yang digunakan ialah anestesi lokal. Anestesi lokal dapat diklasifikasikan sebagai amino ester atau amino amida menurut ikatan/struktur kimianya. Anestesi lokal ester dihidrolisis dalam plasma oleh enzim pseudokolinesterase. Tempat utama biotransformasi anestesi lokal amide adalah hati. Obat anestesi lokal mencegah proses terjadinya depolarisasi membran saraf pada tempat suntikan obat, selanjutnya membran akson tidak akan dapat bereaksi dengan asetilkolin sehingga membran akan tetap dalam keadaan semipermeabel dan tidak terjadi perubahan potensial.


 


DAFTAR PUSTAKA

1.        Margarita Rehatta N dkk. Anestesiologi Dan Terapi Intensif (Buku Teks KATI-PERDATIN). Edisis Per. PT Gramedia Pustaka Utama; 2019.

2.        David E. Longnecker. Anesthesiology. Edisi 3. McGraw-Hill Education; 2018.

3.        Putri N, Sang Surya L. Use of local anesthesia in children: literature review. Makassar Dent J. 2021;10(3):279-282. doi:10.35856/mdj.v10i3.465

4.        Garmon, Emily H. Huecker MR. Topical, Local and Regional Anesthesia and Anesthetics. In: StatPearls Publishing, Treasure Island (FL); 2023.

5.        Malamed SF. Handbook of: Local Anesthesia. Edisi enam. Mosby, an imprintof Elsevier Inc; 2013.

6.        Ni Putu Winda Pradnyawati dr. I Made Agus Kresna Sucandra SKB. Neurofisiologi. In: BAGIAN ANESTESI DAN TERAPI INTENSIF RSUP SANGLAH DENPASAR/ FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA; 2017:1-6.

7.        Cynthia Dewi Sinardja, Sp.An MARS  dr. Local Anesthetic Systemic Toxicity. In: Bagian Ilmu Anestesi dan Reanimasi FK UNUD/ RSUP SANGLAH; 2016.

8.        Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Published online 2015:Universitas Indonesia.

9.        Butterworth JF, D.Wasnick DCMJ. Morgan & Mikhail’s: Clinical Anesthesiology. Vol 68. Edisi 7. McGraw Hill LLC; 2022. doi:10.1016/s0025-6196(12)60651-x

10.      Madani FT, Sylvadika A, Ramaziah NN, Mangkurat UL. Penggunaan anestesi dalam hukum islam. 2023;1:493-497.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar